Seperti dengan tepat dikemukakan oleh C. Lekkerkerker dalam karangannya “ Javaansche geographische namen als splegels van de omgeving on de denkwiizen van het volk “ ( 1931 ), nama Jepara berasal dari perkataan Ujungpara. Dari perkataan ini kemudian muncul perkataan Ujung Mara dan Jumpara, yang kemudian mengerut Jepara atau Japara.

Etimologis ini dikuatkan oleh adanya beberapa nama tempat dikawasan pesisir Jepara yang menggunakan perkataan “ ujung “. Nama-nama ini dengan jelas terjumpai pada peta daerah Jepara dalam buku Domine Francois Valentijn yang termasyhur “Beschrvving Van Groot Djava, Ofte Java Major “ jilid IV yang diterbitkan pada tahun 1726. Pada peta ini kita dapat melihat tempat-tempat bernama Ujung sawat, Ujung Gat, ujung kalirang, Ujung jati, Ujung Lamalang dan Ujung Blindang.

Seperti halnya dalam bahasa Indonesia, dalam bahasa Jawa perkataan “ujung” dapat berarti penjuru tanah atau daerah yang memanjang. Sedangkan perkataan “para” dalam bahasa Jawa merupakan sebuah perkataan yang berwajah arti, diantaranya merupakan kependekan dari perkataan “pepara” yang berarti “bebakulan mrana-mrana”, artinya pergi berdagang kesana kemari.

Dengan demikian perkataan Jepara dapat berarti sebuah ujung tempat pemukiman para pedagang yang berniaga ke berbagai daerah, dalam hal ini ada kemungkinan ke berbagai daerah pedalaman di kawasan kabupaten Jepara dan daerah sekitarnya.

PENYEBUTAN NAMA-NAMA JEPARA DALAM SUMBER-SUMBER SEJARAH

Sangat menarik perhatian, dalam sumber-sumber sejarah Tiongkok mengenai Indonesia dari abad ke-VI sampai abad ke-XV yang telah dihimpun oleh W.P. Groneveldt dan diterbitkan pada tahun 1880 dengan judul “ Historical notes on Indonesia and Malaysia complied from Chinese Sourses”, tidak kita jumpai penyebutan nama kota Jepara. Dari kenyataan ini dapat ditarik kesimpulan, pada abad ke – XV kota Jepara belum lahir atau setidaknya belum merupakan sebuah kota yang berarti.

Kesimpulan ini cocok dengan keterangan Tome Pires dalam buku laporan perjalanannya yang terkenal “Suma Oriental”. Orang Portugis ini selama beberapa bulan antara bulan Maret sampai bulan Juni 1513 telah mengunjungi pantai utara pulau Jawa mulai dari Cirebon sampai Gresik, yang diakhirinya dengan memborong rempah-rempah. Perjalanan dilakukan pada bulan Januari 1515 ia berada di Malaka. Dan pada bulan Januari 1515 membuat hasil karya yang disebut “Suma Oriental”. Tidak lam kemudian ia kembali lagi ke Goa dan selanjutnya pulang kembali ke tanah airnya. Disnilah ia menyelesaikan naskah “Suma Oriental” nya yang membuat terkenal namanya di kalangan masyarakat sejarawan.

Keterangan Tome Pires merupakan sumber sejarah tertulis tertua mengenai Jepara. Ia menyebut nama kepala negeri Jepara Pati Unus. Ayahnya seorang pedagang di Malaka yang berhasil Berjaya dalam perdagangannnya dengan pulau Jawa. Ayah Pati Unus ini kemudian menetap di Jepara. Sekitar tahun 1470 ia menyuruh membunuh patih Jepara. Lalu ia pun menjadi baru di Jepara. Menurut keterangan Tome Pires, pada waktu itu kota Jepara hanya mempunyai penduduk antara 90 sampai 100 orang. Betapapun, keterangan ini benar-benar sangat menarik perhatian. Dengan demikian, kita dapat mengatakan, pada paro kedua abad ke – XV kota Jepara masih merupakan sebagai kota yang belum berarti.

Sekalipun demikian, karena lokasinya yang strategis, kota Jepara yang kecil ini nampaknya telah cukup dikenal orang. Dari tempat ini para pedagang dapat berniaga lebih jauh lagi ke berbagai tempat di daerah pedalaman. Oleh karena itulah tempat ini kemudian disebut Ujung Para atau Ujung Mara, yang kemudian mengalami “verbastering” menjadi Jepara. Disamping itu, kita juga dapat memaklumi, jika Sunan Ngampel, waktu pertama kali dating ke pulau Jawa lebih dahulu menjejakkan kakinya di Jepara. Peristiwa ini dituturkan dalam serat “Kandha edisi Brandes”.

Nama Jepara tampil kembali dalam “Hikayat Hasanuddin”, sebuah naskah sejarah berasal dari Banten. Diceritakan, setelah Pangeran Ampel Denta wafat, putra putrinya telah pindah bersama keluarganya. Nyai Gede Pancuran pindah ke Jepara bersama suaminya. Keduanya bertempat tinggal di Kerang Kemuning. Seorang putrid pangeran Ampel Denta yang lain, Nyai Pengguluh, pindah ke Tuban. Nyai Gede Malaka pindah ke Maloko. Setelah Nyai Gede Malaka meninggal, suaminya pindah ke Tuban. Pangeran Bonang pergi ke Surabaya, menjadi imam di tempat itu. Tidak lama kemudian Pangeran Bonag pindah ke Jepara bersama kakaknya, Nyai Gede Pancuran. Pangeran Kadarajat pindah ke Cirebon, sedangkan saudaranya, Kyai Gede Palembang, berguru ke Syeh Nurullah.

Sealnjutnya dituturkan, tidak lama setelah menjadi imam di Demak, Makhdum Bonang – yang dimaksud tentu saja Pangeran Bonang alias Sunan Bonang – pindah ke Jepara, berumah di Karang Kemuning. Tidak lama diantaranya rumah terbakar, kitab-kitab juga ikut terbakar. Kejadian itu membuat orang geger. Kali Jaga, Lebai Yusup, Lebai Hamzah dan semua muridnya berdatangan, mau memberikan pertolongan. Namun, Sunan Bonang tidak mau. Tak lama kemudian Makhdum Bonang pindah ke Bonang, kemudian pinddah lagi ke Tuban. Beberapa waktu kemudian wafat, dimakamkan disebelah barat masjid Tuban.

Kisah naskah sejarah “Hikayat Hasanuddin” ini sangat penting artinya bagi penelitian kita untuk mengetahui usia kota Jepara. Diceritakan, Suanan Bonang telah pindah dari Surabaya ke Jepara setelah Sunan Ngampel wafat. Menurut naskah sejarah “Serat Babad Gresik” koleksi museum Sono Budoyo di Yogyakarta, Sunan Ngampel wafat pada tahun 1397 Jawa yang jatu bertepatan dengan 1475 Masehi. Ditandai dengan candra sengkala “Pandhita Ngampel Lena Masjid”. Titi mangsa ini tidak jauh berbeda dengan keterangan Wisellus dalam artikelnya “Historich onderzoek naar de geestelijke en weredlijke suprematis van Grisses op Midden – en Oost – Java Gedurende de 16e en 17e eeuw” (1876), yang berdasarkan sebuah naskah dengan judul yang sama – “Babad Gresik” menuturkan, Sunan Ngampel telah meninggal pada tahun 1481 Masehi, ditandai dengan candra sengkala “Ngulama Ngampel Lena Masjid”. Kedua titi mangsa ini sangat menarik perhatian kita.Menurut Tome Pires, sekitar tahun 1470 kota Jepara telah berada di bwah pemerintahan seorang penguasa muslim, yakni ayah Pati Unus. Tokoh ini berhasil menarik banyak orang dan membuat negerinya menjadi besar. Dari keterangan ini tidak berlebihan jika kiranya kita menduga, kehadiran Sunan Bonang di Jepara bukan mustahil karena undangan ayah Pati Unus.

Demikian juga halnya dengan keberadaan Pangeran Ibrahim di Karang Kemuning, Jepara, “pandita dari atas angin” dan ipar Sunan Bonang, yang di kalangan masyarakat Jepara sangat terkenal karena kesolehannya.

Kehadiran mereka berdua memang sangat diperlukan untuk menyiarkan agama Islam di Jepara. Bahkan, bukannya tidak beralasaan jika kita menduga, karena kehadiran mereka cukup banyak kaum muslimin dai luar daerah dating ke Jepara untuk belajar berbagai macam ilmu agama. Penyebutan Kalijaga sebagai murid Sunan Bonang waktu waliullah ini berada di Jepara, menguatkan kesimpulan ini.

Dengan demikian dapat kita kemukakan, kota Jepara baru muncul sebagai kota yang berarti pada akhir abad ke XV, yakni pada masa pemerintahan ayah Pati Unus, baik sebagai pusat pemerintahan maupun penyiaran agama islam. Konklusi ini dikuatkan oleh hasil penelitian pecahan-pecahan keramik yang pernah dilakukan oleh Van Orsov De Flines pada tahun 1940 -1942 di listrik ( sekarang : kawedanan) Jepara. Dari penelitian ini ternyata di kota Jepara hanya terjumpai fragmen-fragmen setengah porselin dari daerah Fukien asal abad ke – XVI dan dari “celadon” yang berasal dari satu sampai dua abad lebih tua. Sedangkan kea rah selatan yakni di kawasan “onderdistrict” (sekarang: Kecamatan) Kedung, hasil hasil ini tidak terjumpai sama sekali. Di kawan tersebut hanya di jumpai fragmen-fragmen dari abad ke-XVIII dan ke – XIX, itupun sangat jarang. Oleh karenanya, mengikuti pendapat Van Orsoy De Flines, kita dapat menyatakan, kawasan ini merupakan sebuah tempat pemukiman yang masih sangat muda dan untuk pertama kalinya mulai didiami oleh sedikit generasi.

PERKEMBANGAN KOTA JEPARA

1.PERANAN ARYA TIMUR

Kota Jepara untuk pertama kalinya mengalami perkembanganpesat pada masa pemerintahan Pate Unus. Jika pada sekitar tahun 1470 kota Jepara merupakan sebuah kota yang tidak berarti dan hanya memiliki penduduk antara 90 sampai 100 orang, setelah ayah Pate Unus memegang tampuk pemerintahan menggantikan kedudukan patih Jepara, penguasa baru ini telah berhasi menarik banyak orang dan memperluas wilayahnya sampa ketanah seberang, yakni sampai ke daerah Banka , Tanjungpura, Pulau “Laue” dan sejumlah pulau lainya. Demikian keterangan selanjutnya mengatakan, ayah Pate Unus telah berhasil membuat negerinya menjadi negeri yang besar. Di samping itu, Tome Pires juga memujinya sebagai raja Jawa yang paling terkenal karena kekuatannya dan pergaulannya yang baik dengan rakyatnya. Bahkan, Tome Pires menyebut ayah Pate Unus hamper sebesar raja Demak, Sekalipun Jepara berada di bawah Demak, yang mempunyai lebih banyak penduduk dan negari.

Pada waktu itu Jepara telah berhasil mempunyai kedudukan yang baik dalam lintas perdagangan Nusantara. Dengan terus terang Tome Pires mengakui, Kota jepara ini mempunyai sebuah teluk dengan sebuah pelabuhan yang indah. Di depan pelabuhan terdapat tiga pulau seperti pulau Upeh di muara sungai malaka. Kapal- Kapal terbesar dapat memasukinya.

Tome pires juga memuji pelabuhan jepara sebagai pelabuhan yang paling baik dari sekian banyak pelabuhan yang pernah di ceritakannya dan berada dalam keadaan yang paling baik. Setiap orang yang akanpergi ke Jawa dan Maluku akan singgah di Jepara.

2. PENYERANGAN KE MALAKA

Pada tahun1511 Gubernur Portugis di India Alfonso de Albuquerque, berhasil menduduki Malaka kota Bandar di Semenanjung Malaya yang menjadi mata rantai perdagangan dengan Nusantara. Situasi ini sangat meggangu pada Pate Unus yang menjadi penguasa di Jepara sejak tahun 1507 pada usia tujuh menggantikan ayahnya, dan untuk melawan portugis, Pate Unus berusaha melengkapi armadanya dengan bantuan Palembang. Armada ini terdiri tanggal 1 januari 1513, namun serangan yang di lancarkannya gagal total, Pate Unus mengalami kerugian berat. Dari lebih kurang 100 buah kapal yang di bawahnya, hanya sekitar tujuh atau delapan buah saja berhasil kembali dengan selamat si negerinya Jepara. Kapal- kapal lainya telah terbakar, tenggelam atau di rampas orang Portugis. Lebih kurang seribu orang anak buahnya telah tewas terbunuh dan lebih banyal lagi yang tertangkap musuh.

Waktu itu Pate Unus berusia dua puluh lima tahun.

Serangannya, sekalipun gagal, jelas merupakan refleksi kejayaan jepara dan gelora semagat kepahlawanan rakyat Jepara, sekaligus symbol semangat patriotic menentang penjajah dari seorang negarawanan muda usia. Sekalipun Pate Unus mengalami kekelahan, namun ia toh tetap merasa malu. Bahkan sebaliknya , ia justru masih dapat merasakan kebanggaan.

Ia memerintahkan kapal jung yangpernah di pakai di pantai Jepara sebagi memori bagi dirinya. Demikian di katakana penulis portugis Joao de Barros dalam buku yang terkenal “ Da Asia”(1553). Bahkan menurut seseorang Portugis lain Damlao de Goes dalam hasil karyanya “ Kronik raja D.Manoel”(1566- 1567), “ Pateonuz” telah memerintahkan meletakkan kapal perangnyaitu di pantai Jepara dan sekaligus menundunginya dengan sebuah pendopo(“ cobrir de hua alpndorada”)

Pate Unus memang benar- benar bangga dengan serangan yang pernah di lakukannya. Castanheda, seorang penilis Portugis yang lain lagi, dalam sebuah bukunya yang di terbitkan pada tahun 1552 dengan lebih merinci menerangkan, motivasi perintah Pate Unus untuk meletakkan kapal perang di pantai Jepara tidak lain agar “ pada waktu orng- orng lain dating mengunjunginya dan menghibur keseduhannya hatinya berkenan dengan kakalahanya, ia dapat mengatakan, bahwa ia lebih berani dari mereka, oleh karena dalam perlalanan ia telah memperoloh banyak kemuliaan, sebab telah berperang dengan bangsa yang paling berani di dunia. Dan telah meperbaiki kapak jungnya, yang selalu ia simpan sebagai tanda kesaksian dari kemuliaaannya, yang sangat sedemikian di junjung tinggi masih membicarakan perbuatan ini……….

3. IDENTIFIKASI PATE UNUS.

Siapa sebenarnya tokoh Pate unus yang gagah berani itu?

Mmenurut ome Pires, kaka Pate Unus berasal dari kalangan bawah (“home trabaljador”) dan bersal dari Kalimantan Barat Daya. Dari tempat ini merantau ke malaka untuk mengadu nasib “ dengan bekal kebansawanan yang sangat sedokit dan uang yang lebih sedikit lagi” ( “ may pouca fidallgula emenos fazemda “ ).

Anehnya , tokoh Pate Unus yang demikian popular di kalangan penulis sejarah Portugis ini tidak tersebut namanya dalam sumber – sumber sejarah pribumi. Demikian juga keberaniannya menyerang orang Portugis di Malaka. Kenyataan ini telah mendorong beberapa orang sejrawan mencoba mencari identifikasi tokoh sejarah ini dengan tokoh- tokoh kerajaan Demak dalm sumber- sumber sejarah pribumi.

Sejarah pertama yang mencoba melakukan pelacakan ini ialah Dr.G.Rouffaer. Dalam karangannya “ Wanneer is Majdapahit gevallen Het tijdperk van godsdienstvergang (1400- 1600 ) in de Maleische Archipel “ ( 1899) ia telah menjumbuhkan tokoh pate Unus ini dengan Pangeran Sabrang Lor dalam sumber – sumber sejarah asli.

Kesimpulan ini di peroleh setelah mengamati dua hal, yakni nama Pangeran sabrang Lord an masa pemerintaannya yang sngat singkat. Mengenai yang pertama Dr.Rouffaer mengatakan, bahwa “ Pangeran, yang sejarahnya memakai pantai seberang sebelah utara “ – demikianlah orang dapat menerjemahkannya dengan lebih merinci- dan paling tidak sama baiknya dengan Pangeran, yang dating dari pantai sebeang” atau sesuatu yang semacam itu, dengan sngat kuatnya menginginkan kitakepada Pate unus yang untuk memperingatikekalahan yang termasyuhur waktu menyerang Malaka, yakni di pantai seberang sebelah urata, telah meletakkan kapal jungnya yang rusak di pantai Jepara, di bawah sebuah pendopo, sebagai sesuatu sanjak perang yang abadi. Dan mengenai “ Pangeran dari tanah seberang utara” yang hanta dua, paling tinggi tiga tahun memerintah, dengan kuatnya telah kembali mengingatkan kita kepada Pate unus yang pada tahun 1521 telah meniggal sebagai raja Demak dan Panakluk Madjapahit, namun pada tahun 1515 dengan sangat bersahaja masih merupakan Pate Unus.

Namun kesimpulan Dr.Rouffaer sama sekali meleset.

Dalam hasil karyanya bersama mereka “ De Eerste Moslimse Vorstendommen Op Java, Studien Over de Staatkundige van de 15de en 15de Eeuw “ (1974) , Dr.H.J.De Graaf dan Dr.Th.G.Th.Pigeaud dengan tegas menyatakan, “ Kesaksian musafir Portugis – yang di maksud Tome Pires -. Yang sejaman dan ada kemungkinan pernah melihat baik raja ketiga di Demak maupun raja Jepara, menimbulkan keberatan pada diri kami menerima pendapat pate Rodim Yang Tua dan Pate unus orang yang sama.

Kedua penulis sejarah itu juga tidak lupa mengingatkan, waktu mengemukakan dugaan, Dr.Rouffaer belum mengenal buku “ Suma Oriental”. . yang dengan tegas menyatakan bahwa Pate Unus.

Kesimpulan yang bias di tarik di seluruh penjelasan di atas adalah Tokoh pate unus sebagai Penguasa di Jepara ternyata bukan Pangeran Sabrang Lor Putra aden Patah yang menjadi Sultan Demak II pada tahun 1501 sampai dengan 1504, hal ini akan di uraikan lebih lanjut pada bab berikutnya.

Sumber : Perpustakaan daerah kab. Jepara

Komentar
  1. sahabatony mengatakan:

    dipekso komen

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s